Walk for Autism
Sebuah kegiatan yang dilaksanakan sejak tahun 2011, dipelopori oleh JCI (Junior Chamber
International) Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan yang ke 8 dalam rangka hari Autis sedunia, diperingati setiap 2 April. Dengan harapan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap autis. Banyak orang masih menganggap bahwa autism berbeda, padahal mereka hakikatnya adalah sama. Sama-sama mempunyai hak untuk dapat perlakuan yang baik, bukan diistimewakan bahkan dibedakan.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 8 April 2018 di halaman gor sempaja. JCI Kaltim
mengundang banyak organisasi kepemudaan lainnya untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Harapannya, agar setiap organisasipun tidak membedakan penyandang disabilitas. Mereka layak
mendapat perlakukan yang sama.
Autisme adalah gangguan perkembangan pada anak yang berakibat tidak dapat berkomunikasi
dan tidak dapat mengekspresiakan perasaan dan keinginannya sehingga perilaku hubungan dengan
orang lain terganggu. Seringkali bagi sebagian orang, autis menjadi bahan candaan yang sama sekali
tidak lucu. Sulit berkomunikasi sedikit saja, dikatai autis. Bertemu dengan penyangdang disabilitas
malah kualahan. Padahal seharusnya kita bisa menjadi teman yang baik. Bahkan menjadi sahabat
bagi orang tua penyandang disabilitas, memberi semangat dan apresiasi agar lebih kuat menghadapi
segala hal.
Tahun ini dengan tajuk “Kaltim Sebagai Provinsi Inklusi”. Mendorong pemeritah untuk lebih
memperhatikan penyandang disabilitas agar mendapatkan perlakukan yang sama saat bekerja. Agar
mendapat pendidikan yang sama juga, menyelesaikan sekolah seperti orang lain pada umumnya.
Tidak ada lagi perbedaan antara penyandang disabilitas dan yang terlahir normal. Tak ada satupun
manusia yang berharap akan hal tersebut, tapi pendidikan terkait inklusi itu penting. Dapat
memahami karakter mereka dan menjadi teman baik tanpa memandang perbedaan.
Inklusi adalah kegiatan mengajar siswa kebutuhan khusus pada kelas reguler. Dengan adanya
pendidikan inklusi, anak ditempatkan pada sekolah reguler tanpa memandang perbedaan fisik,
intelektual, sosial, emosi, bahasa, atau kondisi-kondisi lain, termasuk anak penyandang cacat anak-
anak berbakat (gifted childern). Usaha ini dilakukan karena setiap anak mempunyai hak yang sama
untuk mendapatkan pendidikan.
Setelah acara jalan santai, kami mendeklarasikan bahwa:
1. Menciptakan kondisi inklusi di masing-masing komunitas yang menjadi bagian dari
lingkungan masyarakat,
2. Bersama mewujudkan kondisi inklusi di masyarakat,
3. Mendorong pemerintah dari level kota sampai provinsi untuk bersama menciptakan kondisi
inklusi di wilayah masing-masing,
4. Mendorong pemerintah provinsi untuk mendeklarasikan provinsi Kaltim Inklusi, dan
5. Mendorong pemerintah pusat melalui Menko Kesra, Menteri Pendidikan, Menteri
Kesehatan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan Menteri Sosial
untuk bersama menciptakan kondisi inklusi di wilayah masing-masing.
Naskah deklarasi
Terimakasih kepada JCI sebagai pelopor, sebuah organisasi nasional pemuda non politik. JCImerupakan organisasi kepemudaan internasional terbesar di dunia yang berafiliasi pada PBB.
Organisasi ini bertujuan untuk menciptakan perubahan positif di seluruh dunia. JCI hadir di Indonesia
sejak 1970, tapi sempat vakum dan kembali bangkit pada 1988. Bertujuan untuk menyebarluaskan kepada mayarakat bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri,
memiliki kedudukan yang sama, dan dunia bukan milik perorangan melainakan milik seluruh
manusia.
Semoga setelah kegiatan ini, semakin banyak masyarakat yang memahami untuk memberi
perlakuan sama terhadap penyandang disabilitas. Karena semua manusia sama, yang membedakan
hanya ketaqwaan terhadap sang pencipta.


Komentar
Posting Komentar