Ada Apa dengan Cadar


Sedang marak kasus terorisme yang berkaitan dengan perempuan bercadar, lelaki berjenggot, dan membawa alqur’an. Tadi itu adalah ciri-ciri terorisme. Aduh, sedih banget kalau misalnya aku pakai cadar nih. Ntar orang-orang bakal ngatai bahwa aku bagian dari terorisme. Belum lagi tas ransel yang biasa aku bawa ukuran besar macam galon. Langsung aja deh pada mikir aku bawa bom. Walau sekedar bercanda, rasanya gak lucu gitu.

“Dil, tas ransel kamu isinya apa? Bom ya?”

“Dil, ngapain sih pakai kerudung panjang. Kamu pasti teroriskan?”

Itu sih baru cuplikan aja, mungkin masih banyak lagi yang ditujukan ke para perempuan yang berpakaian syar’i lainnya. Bahkan ada yang mendapat perlakuan atau tuduhan yang lebih miris ke perempuan bercadar. Sampai akhirnya di ibukota membuat social experiment terkait hal tersebut.

Ntar aku kasih videonya bisa kalian tonton sendiri. Jadi, ada lelaki berjenggot yang memgang papan bertulis “Jika kau lelaki, peluk aku”. Papan yang dibawa sang perempuan bertulis “Jika kau merasa aman, peluk aku”. Mencari tau apakah orang-orang akan merasa terganggu akan kehadiran mereka? Lantas, jika merasa aman maka peluk saja. Toh mereka gak bawa bom dan ngaku bahwa hal tersebut adalah bagian dari jihad. Eta mah jahad atuh.



Jauh sebelum ada isu terorisme yang dikaitkan dengan cadar, cadar masih sesuatu yang belum bisa diterima masyarakat sekitar. Semisal pengalaman aku pribadi yang memakai cadar saat menjemput adik di satu sekolah ternama di Samarinda. Jenis cadar yang kupakai adalah bandana, jadi agak sulit untuk dilepas. Sengaja, supaya gak pecicilan. Biar lebih kalem dan terjaga. Singkat cerita, aku jemput di asrama dan menunggu di pos satpam. Mendapat perlakuan tidak menyenangkan, karena pak satpam memintaku untuk melepas cadar lalu aku menolak. Aku jemput hanya sebentar dan langsung pulang ke rumah. Pak satpam tersebut gak terima dan bilang bahwa aku gak sopan. Padahal aku berusaha menundukkan kepala, menandakan aku menghormati beliau saat datang bahkan pamit.

Itu baru satu pengalaman, teman-temanku yang mencoba memakai cadar dan bahkan ada yang sudah isiqomah juga mengalami kejadian yang kurang lebih sama. Jadi, bagi sebagian orang di masyarakat memakai cadar itu gak usahlah. Atau bisa digantikan dengan masker untuk sementara waktu. Sampai mayarakat kita mampu mengahargai perempuan yang menggunakan cadar. Kalau aku pribadi, belum istiqomah pakai cadar. Hanya sesekali jika sangat menginginkannya. Karena memang belum siap, tapi perlu latihan dan cek ombak bagaimana respon masyarakat.

Aku punya rekomendasi film terkait terorisme, yaitu alif lam mim. Saat diputar di bioskop gak panjang umur. Entah dengan alasan apa, aku juga gak ngerti. Silahkan cari tau sendiri linknya ya. Yang pasti akan ada banyak ilmu yang kita dapat. 




Tolong, jangan kaitkan terorisme dengan pakaian atau bagian dari sunnah yang rasul kami ajarkan. Mungkin bagi para pelaku ya begitu adanya, lantas jangan menjadikan semua yang seperti itu sama dengan pelaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuan yang Belum Bernama

Selamat Datang, Rindu