Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2017

Lelaki dalam Aksara

Oleh Adilah Rizma Ku abadikan engkau melalui tulisan Walau tak terlihat seperti batu nisan Namun akan tetap bernyawa Karena, ku tulis dengan jiwa Duhai lelaki yang ku rindu Yang tak mampu ku tatap dengan ayu Yang tak lagi ada di dunia nan semu Bagaimana kabarmu? Karenamu, terciptalah barisan kalimat Aku luapkan dengan nikamt Kau yang mampu memikat Walau kita tak akan pernah terikat Tanah Borneo, 12 Februari 2017 Puisi ini pertama kali dipublikasikan di Samarinda Pos Sabtu, 18 Februari 2017 Berkaitan dengan "Berteman dengan Kematian" Dibedah saat pertemuan rutin dwipekan oleh teman-teman Jaring Penulis Kaltim. Dibacakan oleh mas Tantra dan pakde Agus. Puisi ini sebenarnya tak perlu dibaca secara verbal. Tapi saya akan mencoba bacakan - mas Tantra Puisi ini berkaitan dengan puisi di pekan sebelumnya ya - bang Chai Puisi ini tentang jomblo yang ditinggal pergi lebih dulu - bang Nahwan

Berteman dengan Kematian

Karya: Adilah Rizma Bertemu denganmu hanya satu kali Tak ada yang aneh Pertama kalinya Melihatmu dengan potongan rambut yang berbeda Dari lelaki lainnya Hanya kali itu Beberapa waktu berikutnya Kau memintaku mengantar ke sebuah tempat Untuk bertemu dengan seseorang Kau bilang, ia teman barumu Baiklah, aku akan mengantarmu Walau hatiku tersayat Tepat di hari Senin Di saat matahai sedang menampakkan wajahnya Engkau pergi meninggalkanku Untuk selamanya Maafkan aku Yang tak mampu menjadi teman baikmu Karena tak kuasa menahan tangis Pada kenyataannya, Kau memilih berteman dengan kematian Puisi ini pertama kali dipublikasikan di Samarinda Pos Sabtu, 11 Februari 2017

Tuan yang Belum Bernama

Tak perlu berusaha agar aku terpikat   Namun engkau belum mampu mengikat   Hingga kita jatuh di lubang maksiat   Padahal aku ingin menantimu dalam taat   -- @dillahrzm Tentang tuan yang belum bernama. Aku selalu percaya bahwa namaku dan namamu sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Namun kini aku belum mengetahui mengenai dirimu. Begitupun sebaliknya. Engkau belum saatnya tahu namaku dan bagaimana diriku. Duhai tuan yang belum bernama. Aku yakin engkau sedang mempersiapkan masa depanmu. Berusaha agar senantiasa menjadi manusia yang mampu memberi manfaat kepada orang banyak.Seseorang yang mampu memimpin dirinya dan juga keluarga yang kelak engkau bangun bersama diriku. Kini engkau juga sedang belajar. Belajar bagaimana menjadi suami yang memiliki pengathuan agama yang apik. Karena engkau sadar, menadi imam adalah impianmu dan aku sang makmum. Meski kewajibanmu sholat di masjid dan aku di rumah. Namun memang begitulah seharusnya. Engkau yang ke...