Tuan yang Belum Bernama

Tak perlu berusaha agar aku terpikat 
Namun engkau belum mampu mengikat 
Hingga kita jatuh di lubang maksiat 
Padahal aku ingin menantimu dalam taat 
-- @dillahrzm

Tentang tuan yang belum bernama. Aku selalu percaya bahwa namaku dan namamu sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Namun kini aku belum mengetahui mengenai dirimu. Begitupun sebaliknya. Engkau belum saatnya tahu namaku dan bagaimana diriku.

Duhai tuan yang belum bernama. Aku yakin engkau sedang mempersiapkan masa depanmu. Berusaha agar senantiasa menjadi manusia yang mampu memberi manfaat kepada orang banyak.Seseorang yang mampu memimpin dirinya dan juga keluarga yang kelak engkau bangun bersama diriku.

Kini engkau juga sedang belajar. Belajar bagaimana menjadi suami yang memiliki pengathuan agama yang apik. Karena engkau sadar, menadi imam adalah impianmu dan aku sang makmum. Meski kewajibanmu sholat di masjid dan aku di rumah. Namun memang begitulah seharusnya.

Engkau yang kelak menjadi ayah dari anak-anakku. Tuan yang belum bernama, semangatlah untuk tetap belajar. Usai bukan penghalang, karena menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim. Belajarlah menjadi ayah yang baik di akhir zaman penuh tantangan. Di saat anak kita lahir, teknologi akan semakin canggih. Tetapi, engkau selallu punya cara untuk menghindarkan anak-anak dari gadget. Buku sebagai senjata mengahalau segala resah dalam benakku.

Masih tentangmu, lelaki yang belum bernama. Aku hanya perempuan biasa yang hanya ingin kau ikat. Dengan Ikatan yang halal adalah jalan kita untuk menuju surga-Nya. Setelah engkau mampu mengikat, berani menemui ayahku, dan mampu menggantikan tugas ayah dalam menjagaku. Pikatlah aku dengan pesonamu, hingga hanya aku yang mampu. Karena aku adalah kekasih halalmu. Temani aku di sini, bantu aku mengubah mimpi menjadi nyata. Jadikanlah aku teman sehidup sesurgamu.

Aku akan tetap di sini, tuan.

Berusaha dalam taat.
Do'a tentangmu akan ku perketat.
Agar engkaupun senantiasa taat.
Dan kita terjaga dari maksiat.

Tanah Borneo, 13 Februari 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamat Datang, Rindu