The Power of Love
Dengan kekuatan cinta,
aku mampu mengepakkan sayap lewat pena. Karena melalui pena, aku sampaikan
pesan cintaku padamu. Wahai para pembaca yang saling mencintai karena Allah.
Mujaheed of Love, dahulu kala adalah sebuah klub menulis. Di sekolah menengah
kejuruan di Balikpapan, tempat aku menimba ilmu. Tapi kali ini bukan itu yang
ingin aku bahas. Melainkan sebuah film tentang aksi 212, dilakukan pada tanggal
2 Desember 2016 di halaman Monumen Nasional bahakan sampai ke Bundaran Hotel
Indonesia. Sebuah aksi ketiga yang merupakan aksi bela Islam yang ketiga,
setelah 14 Oktober 2016 dan 4 Nopember
2016 (411).
Ummat sangat
tersinggung, atas sebuah perkataan seorang pemimpin daerah terkait tafsir satu
ayat dari kitab suci. Di dalam Qur’an surah Al Maidah ayat 51 tentang haramnya
memilih pemimpin kafir. Padahal tak boleh ada satupun makhluk yang menghakimi
tentang siapa yang kafir. Itu baru perihal tafsir satu ayat berdasar perkataan
seseorang, lalu atas penyataan mantan Gubernur DKI Jakarta dijadikan tersangka
atas penodaan agama.
Seluruh rakyat di
negeri ini mengetahuinya dari seorang dosen, lalu beliau juga dijadikan
tersangka dengan alasan mengedit video. Entah apakah kejadian ini sebuah
skenario sang Pencipta untuk menguji kami sebagai hamba, apakah kita akan diam
saja ketika sebuah ayat ditafsirkan berbeda? Jadi, yang mengupload dan yang
mengatakan sesuatu hal salah sama-sama dijadikan tersangka. Tapi tidak cukup
sampai di situ, ada banyak sekali kejanggalan yang sampai sekarang menjadi
sebuah misteri.
Kalau yang ngedit video
menjadi tersangka, sempat dipenjara dan melalui proses panjang. Bagaimana
dengan kabar pemimpin yang mungkin tak sengaja berucap? Ah sudahlah, biar itu
menjadi urusan yang “berwenang”. Namun entah siapakah yang bersangkutan
tersebut.
Apa yang kita ucapkan
adalah dari apa yang kita pikirkan. Maka, banyak-banyaklah berpikir yang baik
agar ucapan menjadi apik. Salah sedikit saat berkata, mampu menyakiti hati oang
lain. Walau mungkin terkadang kita hanya sekedar bercanda. Karena pepatah
bilang, mulutmu harimaumu.
Panjang deh prolognya
ya, menjadi pengatar kenapa ada film 212: The Power Of Love. Bagi sebagian
orang film ini adalah bagian dari politik. Saya berpikir, siapakah yang
diuntungkan jika film ini bagian dari politik? Bagi saya pribadi, film ini
merupakan gambaran nyata saat aksi. Karena saya adalah ummat yang tidak hadir
saat aksi. Lalu hanya mendapat “oleh-oleh” cerita dari seorang saudari yang
berangkat pada aksi 411. Pada aksi 411, seluruh ummat dari berbagai golongan
hadir untuk satu tujuan yaitu “Membela Islam”.
“Sayang kau tak hadir,
dil”, begitu ucapnya. Betapa indah engkau melihat hamba-hamba Allah berkumpul.
Kami semua mabit di masjid Istiqlal, Jakarta. Makan, sholat, “ngaso”, dan lain
sebagainya di masjid. Ada saja yang menyediakan makanan dan minuman gratis.
Apalah daya aku yang hanya mampu memantau perkembangannya dari media sosial.
Peserta aksi berasal
dari berbagai daerah di Nusantara, atas izin-Nya untuk ikut menyuarakan kebenaran.
Bahkan ada yang menarik, dari Ciamis ke Jakarta ditempuh dengan berjalan kaki.
Masyaa Allah. Membuat hati terharu, sampai segitunya ya orang mau berkorban
membela agama. Lalu sebelum sampai tempat tujuan, ada banyak sekali konflik
yang terjadi.
Tenang saja, film 212
bukan hanya untuk kaum muslim. Tapi bagi seluruh pecinta film di tanah ibu
pertiwi. Yang ingin mengatahui bagaimana jalan ceritanya. Bagaimana menciptakan
aksi yang damai, bahkan rumput saja tidak diinjak. Sampah tidak berserakan. Islam
itu agama yang damai, walau ada beberapa orang berdasar emosinya bisa saja
khilaf.
Aku gak mau review
filmnya sih, takut spoiler. Film ini sesuai ekspektasi atau enggak ya? Hmm. Lumayanlah,
dapat sedikit gambaran tentang aksi 212 tersebut. Betapa indahnya keberagaman,
saling menghormati antar ummat beragama. Kalau ada yang mencekal tayangnya film
ini, sedih aja sih. Mungkin orang-orang tersebut belum nonton ajakan? Atau baca
dari sudut pandang berbeda. Selera setiap orang kan bebeda, kasihan dong kalau
di daerah tersebut ada yang mau nonton tapi tak bisa. Harus kemana dia?
Bagi kalian yang belum
nonton dan di daerahnya masih menayangkan film 212: The Power Of Love, buruan
deh!
Komentar
Posting Komentar