DIA Menyimpan Empat Rahasia


Selamat pagi, para pencari cinta-Nya. Sebelum memulai hari ini menatap indahnya alam, mari kita mensyukuri kehidupan nan fana. Sembari memaknai segala peristiwa bermakna. Perkenalkan, DIA adalah sutradara paling the best yang pernah aku temui di negeri “masa”. DIA menyimpan empat rahasia yang setiap manusia tak kan sanggup menerka. Sebut saja; jodoh, rezeki, kelahiran, dan kematian.
Rindu tak pernah tahu kapan sang jodoh datang menjeput. Yang ia tahu di usianya kali ini, menurut orang; ia sudah bertemu dengan sang jodoh. Namun belum dijemput dan masih dirahasiakan oleh DIA. Hari-hari dipenuhi kerinduan dan risau akan datangnya pangeran hati. Walaupun nama Rindu dan sang pujangga sudah tertulis di naskah yang DIA buat. Rindu hanya mampu memainkan peran.
Rezeki, anugerah dengan berbagai cara yang DIA beri pada Rindu. Bisa jadi berupa sahabat kocak yang membuat hidupnya gak seserius Rindu. Rindu terlalu serius memikirkan yang dirindukan. Atau menyambut senja bersama bersama adik-adik yang penuh semangat ingin berbagi keceriaan di daerah sungai ciliwung versi Samarinda.
Kelahiran dan kematian, semacam satu paket. Karena ada hal yang tak pernah Rindu lupa. Kelahiran dan kematian sang abang tercinta, sebenarnya Anugerah adalah adik Rindu, Rindu anak kedua dari enam bersaudara. Anugerah anak ketiga, kakak pertama adalah Cahaya. Jadi, Anugerah anak laki-laki pertama yang Allah pinjamkan pada kami selama 10 jam. Anugerah lahir di bulan Juli hampir 13 tahun yang lalu. Maafkan Rindu yang tak memngingat baik tahun lahir Anugerah.
Anugerah lahir dengan ketampanannya yang sama rata dengan sang ayah. Ternyata menurut DIA, dunia fana hanya selama 10 jam untuk Anugerah. Selanjutnya, Anugerah berada di tempat yang kekal. Kepergiannya mengharuskan sang ibu dan ayah untuk belajar melepas dan mengikhlaskan. Ibu sungguh tegar, sejak awal beliau memperkirakan hal ini. Menguatkan hatinya bahwa lelaki tampan yang selama ini didamba harus pergi.
Rindu memutar kembali waktu kala ia menghadiri pemakaman kawannya. Seorang kawan yang pergi ke tempat indah yang sudah DIA siapkan. Mempertahankan agar air mata tak menetes dihadap sang kawan, menguatkan kawan lainpun. Tapi kala melihat sang mama berkata; “mama ikhlas abang pergi. Nanti mama nyusul abang, mama pulang ya”. Mata Rindu tak mampu lagi membendung, bagai hujan yang turun dengan derasnya.

Begitulah Rindu, mampu menguatkan orang lain, tapi benteng pertahannya sendiripun runtuh seketika.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuan yang Belum Bernama

Selamat Datang, Rindu