Sarjana Tanpa Bahagia

Aku ingin ceritakan, sebuah perjalanan menuju sarjana tanpa bahagia. Bagi sebagian orang, menjadi sarjana adalah sebuah cita-cita mulia. Mendapat gelar, memiliki pekerjaan yang layak, mendapat pasangan sederajat, dan segala kenikmatan atau sekedar ketamakan manusia. Tak ada kata bahagia, hanya mengenal sederet hampa, sebagai kerabat.

Yah, begitulah manusia. Tak ada hati, tak memiliki perasaan. Tengkorak berjalan yang menikmati indahnya hidup berselimut kabut. Sebenernya apa yang sedang kucari? Apa yang menjadi mimpiku?  Aku hanya mampu duduk sembari berbicara dengan mataku. Berharap untuk segera mengakhiri hidup ini. Aku lelah menjadi bintang, aku bosan tetap tersenyum. Aku ini tak bermanfaat. Aku bahkan tak kenal martabat. Aku cuma ingin, martabak. Special, pakai telor dan karet 2.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuan yang Belum Bernama

Selamat Datang, Rindu